Namun, tidak demikian halnya dengan sektor pertanian, khususnya sub-sektor perkebunan. Jika di Jawa banyak terdapat bunch industri yang kehilangan pekerjaan, maka di Sulawesi, para petani cokelat justru mengalami kehidupan yang berlimpah, karena terjadinya kenaikan harga cokelat di pasaran internasional.
Ketahanan sektor pertanian dalam menghadapi krisis menyebabkan terjadinya perubahan pola pikir dari para perencana pembangunan di negara-negara yang sedang berkembang. Jika semula industrialisasi diandalkan sebagai suatu model pembangunan yang akan mampu memecahkan masalah keterbe-lakangan negara-negara yang sedang berkembang; setelah krisis menimpa negara-negara tersebut, pembangunan sektor pertanian kemudian menjadi harapan baru dalam pembangunan di negara dunia ketiga.
Meskipun telah terbukti bahwa sektor pertanian mampu menjadi tumpuan hidup masyarakat yang sedang menghadapi krisis ekonomi, tetapi untuk men-jadikan sektor pertanian sebagai suatu leading sector dalam proses pembangunan bukanlah suatu hal yang mudah. Untuk membangun sebuah agro-industri yang mampu menjadi mesin pendorong pembangunan ekonomi yang handal, dibutuhkan investasi yang mahal. Di samping itu, pembangunan suatu agro-industri akan menghadapi tantangan yang berasal dari perubahan-perubahan yang akan terjadi pada abad yang akan datang, yang cenderung didominasi oleh negara-negara maju.
Buku ini merupakan suatu upaya untuk menggambarkan berbagai masalah yang dihadapi oleh negara-negara yang sedang berkembang, dalam membangun sektor pertanian mereka pada abad ke-21.

>>> Download Here <<<